Senin, 29 Agustus 2011

Hukum Newton I


Masih ingat pelajaran fisika tentang Hukum Newton?

Ya! Ada tiga, tapi yang ingin saya bicarakan tentang Hukum newton I atau sering disebut Hukum Kelembaman.

Kalo ga inget, tanya deh sama anak SMA. Seingat Saya, waktu kelas 1 SMA guru fisika menerangkan Hukum Newton I ini. Biar lebih ingat lagi, begini nih bunyinya Hukum si Newton itu:

Sifat lembam benda adalah sifat mempertahankan keadaannya, yaitu keadaan tetap diam atau keadaan tetap bergerak beraturan.

Waktu itu guru Saya mengilustrasikan bahwa benda yang tadinya diam, akan mempertahankan keadaan diamnya, dengan meletakkan selembar kertas di atas meja dan sebuah gelas di atas kertas tadi. Lalu pak guru menarik kertas dengan cepat, ajaib…. Si gelas tak jatuh ketarik, goyang pun tidak.

Menerangkan bahwa benda yang tadinya bergerak akan tetap mempertahankan keadaan bergeraknya, dia mencontohkan dengan kalau Kita naik mobil dengan cepat lalu di rem mendadak, maka Kita akan terdorong ke depan.

Sahabat, Hukum Newton I tadi intinya menerangkan bahwa setiap benda cenderung akan mempertahankan keadaannya (baik itu keadaan diam atau bergerak) kalau ada tindakan kepadanya dengan mendadak, tetapi kalau tindakan yang mempengaruhinya perlahan-lahan, maka si benda tadi akan terpengaruh.

Coba saja, kalau kertas tadi ditariknya pelan-pelan, maka si gelas akan terbawa bergeser mengikuti kertas. Atau kalau mobil tadi di rem-nya tidak sekaligus, maka posisi duduk Kita akan tetap nyaman.

Sahabat, Kita sudah meninggalkan Ramadhan, bulan yang iklim ibadahnya sangat kuat, makanya dinamai juga syahrul ibadah (bulan ibadah). Selama 30 hari Kita dikondisikan untuk meningkatkan amalan ibadah Kita, baik yang sunah lebih-lebih yang wajib, dan Kita bersemangat melakukannya.

Coba saja perhatikan, sholat tarawih misalnya, begitu penuh mesjid-mesjid saat sholat tarawih, yang biasanya ga pernah sholat di mesjid, hadir berjamaah sholat tarawih. Atau Tadarusan (baca/tilawah al-quran secara bersama-sama) yang marak, siang atau malam, grup ibu-ibu, bapak-bapak atau anak-anak. Dan ibadah-ibadah lainnya yang jarang ditemukan di luar bulan ramadhan.

Begitupun Kita, sahabat. Kita terkondisikan selama 30 hari untuk bangun malam, sholat berjama’ah di mesjid, tilawah setiap hari, serta menghindari ngobrol, ngegosip, dll. 30 hari harusnya waktu yang cukup untuk menjadikan itu semua menjadi habbit (kebiasaan) kita. Sangat sayang kalau lepas Ramadhan, habbit itu hilang begitu saja.

Ingat Hukum Newton I. Habbit kita itu akan luntur perlahan-lahan, sampai kemudian hilang sama sekali, na’udzubillah, kalau Kita mengikuti pengaruh yang ada, yaitu dari hawa nafsu kita dan godaan syetan. Lalu kita kembali ke kebiasaan lama Kita, sholat malam kalau bangun, tilawah kalau ingat, sholat berjama’ah di mesjid kalau sempat, bergosip lagi, bergunjing lagi, dll, dll.

Sahabat tentu ingat nasihat Ali bin Abi Thalib ra. yang mengatakan :

Sungguh tercela orang yang hari ini lebih jelek dari kemarin, dan
sungguh merugi orang yang hari ini sama saja dengan kemarin, tetapi
sungguh beruntunglah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin

Sahabat, tentu Kita tidak ingin jadi orang yang merugi, apalagi tercela.

Ingat, Allah sudah memberikan potensi kepada Kita untuk bersifat lembam, mempertahankan keadaan. Jangan disia-siakan. Kita sudah terlatih –selama 30 hari-, jangan dibuang percuma hasil latihan Kita. Tubuh Kita sudah terkondisikan untuk melakukan hal-hal yang bernilai ibadah dan menghindari hal-hal yang negatif.

Sebelas bulan ke depan, adalah medan pembuktian, apakah kita lulus dari madrasah Ramadhan ini atau tidak.

okey ?  JADIKAN HARI INI HARUS LEBIH BAIK DARI HARI KEMARIN.

Tasikmalaya, Selasa akhir Ramadhan 1432H, 10.00 wib

Urip Widodo, ST.
www.tarbiyah-online.com  &  www.uripwid.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar