Sabtu, 17 September 2011

Manusia Haram

Sahabat, dalam Islam Kita mengenal hukum fiqih yang 5, yaitu Wajib, Sunah, Mubah, Makruh dan Haram. Hal ini sudah Kita pelajari sejak SD, tapi ga apa kan kalau Saya menjelaskan lagi ke lima hukum fiqh tadi?

WAJIB. Sesuatu yang Harus dilakukan dengan konsekuensi apabila dilakukan Kita akan mendapat pahala dan sebaliknya bila ditinggalkan Kita akan berdosa dan mendapat siksa di yaumil akhir nanti.


SUNNAH. Sesuatu yang lebih baik dikerjakan, Kita akan mendapat pahala apabila melakukannya dan apabila tidak melakukannya kita tidak berdosa.

MUBAH.  Sesuatu yang tidak berkonsekuensi apabila dilakukan atau tidak dilakukan.

MAKRUH. Kebalikan dari Sunnah, lebih baik ditinggalkan dan Kita akan mendapat pahala bila tidak melakukan, sedangkan bila dilakukan kita tidak berdosa.

HARAM. Kebalikan dari Wajib. Sesuatu yang tidak boleh dilakukan. Kita akan berdosa apabila melakukannya dan sebaliknya akan mendapat pahala bila meninggalkannya.

Sahabat, Saya tidak akan membicarakan tentang hukum fiqh tersebut dalam tulisan ini. Saya hanya tertarik ketika mengilustrasikan kelima hukum fiqh di atas terhadap posisi Kita dalam sebuah komunitas.

Ya Komunitas! Baik itu organisasi, lingkungan perumahan dimana Kita tinggal, kantor, kampus, parpol atau yang lainnya.

Saya sering memperhatikan dan setelah ‘tak pikir-pikir’, ternyata ada 5 tipe anggota komunitas tersebut dan identik dengan 5 hukum fiqih yang Kita bicarakan tadi.

Apa itu?

Pertama, Kita sebut saja Manusia Wajib. Artinya dalam sebuah komunitas ada orang-orang tertentu yang keberadaannya mau tidak mau HARUS ADA. ‘Hidup’nya roda komunitas itu karena adanya orang ini. Kehadirannya sangat ditunggu-tunggu semua anggota komunitas. Kepergiannya meninggalkan komunitas akan sangat ditangisi.

Kedua, Manusia Sunnah. Keberadaannya cukup berpengaruh walaupun tidak begitu penting. Kehadirannya SEBAIKNYA ADA, walaupun ketidakhadirannya tidak sampai menghentikan roda komunitas. Kontribusinya cukup membantu menghidupkan komunitas.

Ketiga, sebut saja Manusia Mubah. Ini adalah anggota komunitas yang BIASA-BIASA saja. Tidak pernah memberikan kontribusi tetapi juga tidak pernah menimbulkan masalah bagi komunitas. Keberadaannya hanya menambah banyaknya jumlah anggota komunitas.

Keempat, Manusia Makruh. Orang seperti ini SEBAIKNYA TIDAK ADA. Selain karena tidak pernah memberikan kontribusi positif pada komunitas juga seringnya menimbulkan masalah. Keberadaannya cukup mengganggu. Kehadirannya lebih diharapkan tidak ada.

Kelima, Manusia Haram. Anggota komunitas tipe ini TIDAK BOLEH ADA. Kehadirannya berarti gangguan bagi anggota komunitas yang lain. Bukannya kontribusi yang diberikannya, tetapi malah hal-hal yang dapat merugikan komunitas. Keberadaanya lebih cenderung seperti penyusup yang ingin menghancurkan komunitas. Kepergiannya akan sangat disyukuri, bahkan tidak sedikit yang mendo’akan orang tipe ini supaya segera keluar dari komunitas.

Sahabat. Kita pasti adalah anggota sebuah komunitas, baik itu komunitas kecil atau besar, komunitas formal atau tidak formal. Bahkan mungkin Kita sekaligus anggota dari beberapa komunitas. Coba deh kita melihat sekeliling Kita. Kita akan menemukan anggota komunitas dengan tipe-tipe di atas, bahkan mungkin kelima tipe ‘hukum fiqh’ tersebut semuanya ada dalam komunitas Kita.

Tapi yang penting sahabat. Bukan posisi rekan-rekan Kita di komunitas dengan tipe apa. Yang terpenting adalah, bagaimana posisi Kita dalam komunitas. Mari Kita menghitung, dari kelima tipe di atas ada dimanakah Kita?

Syukur-syukur Kita ada di tipe Manusia Wajib atau setidaknya Manusia Sunnah. Dan a’udzubillahi min dzalik, kalau Kita masuk ke tipe Manusia Makhruh atau malah Manusia Haram.

So, berikan kontribusi positif terhadap komunitas dimana pun Kita berada.

Wallahu ‘alam.

Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan".  (QS. At-Taubah:105)

Tasikmalaya, 17 September 2011, 06.30 wib
Urip Widodo, ST

Tidak ada komentar:

Posting Komentar