Kamis, 19 Januari 2017

Mata Hati Ilahi

Dari mata, turun ke hati. Demikian peribahasa yang kita kenal sejak lama. Jika mata cocok, maka hati kita cocok. Jika mata tidak cocok, maka hati ikut tidak cocok. Betul begitu ya? Kayaknya sih memang begitu.

Tapi kalau kita renungkan, ternyata hal itu tidak selalu tepat ya. Karena, akhirnya hati kita di set sesuai selera kita. Sehingga penilaian kita terhadap sesuatu, kental dengan hal-hal yang bersifat fisikal dan material.
 
Asal terlihat bagus. Hati tertarik. Padahal yang kelihatannya bagus pun belum tentu baik. Sehingga walau pun mata sudah di 'set' untuk memiliki kemampuan melihat yang bagus, penilaian hati bisa terkecoh oleh sesuatu yang 'mengelabui' mata. Hingga yang sebenarnya buruk bisa terlihat bagus.

Beda dengan hati yang diset jadi bening. Dia akan menjadi filter atas pengelabuan benda-benda maupun kejadian kasat mata. Hingga hati yang bening bisa menemukan hikmah dibalik setiap kejadian. Serta bisa merasa terhadap sesuatu yang patut, hingga terbedakan dengan hal yang tidak pantas.

Pada saat itulah hati bisa menjadi pemandu jalan menuju maqom yang tinggi dari sisi kemanusiaan kita. Maka, benarlah sabda Rasulullah ﷺ bahwa baik buruknya seseorang bergantung pada qolbunya.

Hal ini semakin relevan sekarang. Terutama ketika manusia semakin sering saling mengadali. Hingga semakin sulit untuk mengenali mana benar dan mana salah. Lalu, setiap orang membangun keberpihakkan kepada kelompok yang paling bisa memberinya manfaat secara material.

Tidak penting lagi baik buruk. Tidak guna lagi benar salah. Tak bermakna lagi etika dan moral. Asal menguntungkan, ya diberi dukungan. Tidak jadi soal walau harus melakukan tindakan tak patut, absurd bahkan yang paling memalukan sekalipun. Bukankah fenomena seperti ini sedang trending sekarang?

Mata hati. Itulah yang menentukan penilaian. Maka dimata orang yang benci, kebaikan dicurigai. Kesalahan menjadi bahan untuk membuli. Dimata orang yang mencintai? Keburukan dinilai kebaikan. Kepalsuan diagung-agungkan.

Lantas, hati seperti apa yang diisyaratkan oleh Rasulullah ﷺ? Alloh menjawabnya dalam Al-Quran  surah As-Syu’ara :  89.

 إِلاَّ مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“... kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

Hati yang bersih Al-Qolbun saliim. Demikiannternyata hati yang dimaksudkan oleh Baginda Rasulullah ﷺ. Coba perhatikan orang-orang yang hatinya bersih. Setiap tindakannya didasari oleh niat yang baik. Ketika dia menolong niatnya baik. Ketika mengkritik pun niatnya baik. Bahkan ketika marahnya sekalipun, niatnya baik.

Berbeda dengan orang yang berhati kotor. Bahkan 'kebaikan' untuk orang lain tidaklah tulus ikhlas dilakukannya. Kebaikan bertanda petik. Ada tipu. Dan ada muslihat. Sehingga janji-janjinya palsu. Kata-katanya dusta. Dan kerjanya merusak.

Segala sesuatu yang datang dari orang yang berhati kotor. Hanya akan berguna bagi dirinya sendiri. Atau komplotannya saja. Tidak jadi soal walau membawa dampat buruk dan berbagai madhorot bagi orang lain. Bagi bangsanya. Bagi negaranya. Asal komplotannya untung. Lakukan.

Sedangkan segala sesuatu yang datang dari orang berqolbun salim - orang yang berhati bersih - bakal baik. Bagi dirinya. Bagi orang-orang disekitarnya. Bagi bangsa dan negaranya. Bagi dunia dan akhiratnya.

Hadits Nabi. Dan firman Ilahi. Semakin relevan dizaman ini. Semoga. Kita bisa menjaga agat hati kita tetap bersih. Hingga terjaga akhlak dan sifat amanah dalam diri kita. Walau mungkin, sudah tidak mudah lagi menemukan keteladanan di sekitar kita.

Dan semoga pula. Kita tetap dilindungi Alloh ta'ala. Dari keburukan yang ditimbulkan oleh sifat khianat dan muslihat pemilik hati yang kotor. Sambil kita sendiri istiqomah untuk menjaga kebersihan hati. Hingga Alloh berkenan menyambut kita sebagai 'jiwa-jiwa yang tenang....



Sumber : http://finance.groups.yahoo.com/group/NatIn/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar