Senin, 30 September 2019

ASAL MULA PEMBERONTAKAN G 30 S PKI

BAGIAN II

Oleh Nuradi Sulaiman Harun

Memasuki tahun 1965, PKI makin agresif dimana mana.
Di Jawa Timur mereka menunjukkan sikap yang arogan terhadap para alim ulama pondok-pondok pesantren. Demikian pula di daerah Jawa Barat, mereka di perkebunan menunjukkan kekuatan SARBUPRI (Sarikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia).

Maka pada tanggal 14 Mei 1965 di Sumatera Utara di perkebunan Simulungun di Bandar Betsi mereka juga melakukan serangan dengan buruh taninya, buruh perkebunannya, dan pemudanya untuk mengambil tanah perkebunan untuk kepentingan atau keperluan mereka.

Dalam peristiwa itu mereka malah membunuh seorang perwira TNI-AD, seorang Pembantu Letnan Sudjono yang tugasnya adalah menjaga perkebunan di Bandar Betsi itu.
Ia berusaha mencegah usaha mereka menguasai tanah perkebunan.
Sudjono dibunuh oleh mereka.

Dan kemudian PKI sebagai organisasi mengusulkan kepada Presiden Soekarno untuk membentuk Angkatan ke 5 dengan alasan untuk memperkuat usaha Republik Indonesia di dalam menjalankan Konfrontasinya terhadap Malaysia.

Tapi pasti hakekatnya adalah untuk memperkuat posisi PKI di Indonesia. Angkatan ke 5 akan terdiri dari buruh dan tani yang dipersenjatai dengan senjata yang akan diperoleh dari RRC.
Bung Karno menyetujui dan akan memenuhi permintaan itu.
Akan tetapi pimpinan TNI-AD menolak dan menyatakan bahwa ABRI yg terdiri dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara dan Angkatan Kepolisian cukup memadai untuk menjalankan semua tugas di dalam melaksanakan Konfrontasi.

Hal ini menambah lagi ketegangan antara PKI dan TNI-AD dan dalam hal ini lagi Bung Karno cenderung berpihak kepada PKI dan mengatakan bahwa TNI-AD semakin komunistophobi dan semakin berkelebihan tidak senangnya kepada PKI.

Jenderal Yani dan stafnya berusaha untuk terus melerai pandangan Presiden Soekarno terhadap TNI-AD.
Pak Yani benar-benar berusaha menunjukkan loyalitasnya yang maksimal pada Presiden Soekarno.
Akan tetapi menyangkut PKI ini buat Pak Yani sulit sekali untuk menyetujui apa yang dikehendaki oleh PKI dan didukung oleh Presiden Soekarno.

Rupanya tim kesehatan China yang mendampingi presiden Soekarno mulai khawatir terhadap kondisi kesehatan Bung Karno dan hal ini dilaporkan ke pimpinannya di Beijing.
Pimpinan Beijing khususnya Perdana Menteri Zhou En Lai minta DN Aidit untuk datang ke China.
Tentu bukan begitu secara terbuka, tetapi kesan perjalanan Aidit ke China dibuat seakan-akan DN Aidit sebagai menteri di dalam Pemerintah Nasakom melakukan perjalanan persahabatan ke China.

Di dalam pertemuan antara Aidit dengan Zhou En Lai ini rupanya dibicarakan resiko tentang kondisi kesehatan Bung Karno.
Sebab jelas sekali tanpa Soekarno posisi PKI di Indonesia akan sulit dapat dipertahankan.
Inilah mungkin yang menjadi landasan keputusan yang diambil oleh pimpinan PKI khususnya Aidit.
Dalam pada itu PKI telah berkembang menjadi partai komunis terbesar di dunia di luar Uni Soviet dan RRC.
Hubungannya dengan Moskow dan Beijing cukup erat sekalipun antara Moskow dan Beijing sudah timbul kerenggangan.

Rupanya oleh Aidit diatur agar Nyoto sebagai pembantunya untuk menjalin hubungan lebih dekat ke Moskow, sedangkan dia sendiri lebih mendekati Beijing.
Usaha Biro Khusus untuk mempengaruhi unsur-unsur ABRI berjalan terus. Meskipun intelijen Angkatan Darat berusaha untuk mengetahui segala hal yang dilakukan oleh Biro Khusus akan tetapi nampaknya tidak semua dapat diketahui dengan cermat.

Pasti diketahui bahwa ada kesatuan-kesatuan di Kodam Diponegoro yang dulu merupakan unsur PKI Madiun yang berontak seperti bekas Batalyon Malady Yusuf.
Atau bekas pasukan-pasukan Panembahan Senopati memang mendapat observasi tetapi sukar tentu untuk diketahui secara cepat seberapa jauh dan seberapa luas PKI telah berhasil mempengaruhi unsur-unsur ABRI khususnya TNI-AD.

Maka ketika pada tanggal 30 September malam dan 1 Oktober pagi PKI mulai memukul dengan menggunakan unsur-unsur Pasukan Pengawal Presiden Cakrabirawa di bawah pimpinan komandan batalyonnya Let.Kol Untung maka ini merupakan suatu tindakan surprise atau pendadakan yang kurang bisa diantisipasi oleh intelijen Angkatan Darat.

Oleh karenanya pesan Beijing untuk “memotong kepala ular” terlaksanalah. Tindakan ini dilaksanakanlah oleh Aidit pimpinan PKI dengan menggunakan unsur-unsur Cakrabirawa yang telah kena dipengaruhi oleh usaha Biro Khusus. Selain itu juga ada beberapa unsur dari AURI yang terpengaruh demikian pula dari Angkatan Laut.

Pada tanggal 1 Oktober fajar kediaman Panglima Angkatan Darat, Jenderal Ahmad Yani; kediaman Deputi Angkatan Darat, May.Jend. Suprapto; kediaman Asisten Intelijen Angkatan Darat (ASPAM-AD) May.Jend S. Parman; kediaman Asisten Logistik Brig.Jen D.I. Panjaitan, kediaman Irjen Angkatan Darat, May.Jend MT Haryono; dan kediaman Kepala Pusat Hukum Angkatan Darat, Brig.Jen Sutoyo didatangi oleh unsur-unsur Cakrabirawa. Mereka datang dengan alasan untuk mengambil perwira-perwira yang dituju untuk dihadapkan pada Presiden Soekarno dengan tuduhan bahwa mereka telah berada di dalam Dewan Jendral yang akan merebut kekuasaan dari Presiden Soekarno di Indonesia.

Tetapi ternyata tidak hanya perwira-perwira itu diambil bahkan ketika perwira-perwira itu baik Pak Yani maupun yang lain menunjukkan sedikit tindakan sikap perlawanan, maka pasukan yang datang itu tanpa ragu-ragu telah menembak para perwira-perwira ini.
Jadi waktu itu Pak Yani sebetulnya di rumah sudah tiada atau sudah gugur ditembak oleh para unsur Cakrabirawa ketika beliau berusaha melawan. Demikian pula yang lain.
Yang gagal diambil oleh unsur Cakrabirawa ini adalah Jenderal Nasution.

Jenderal Nasution berhasil melarikan diri sementara ajudan beliau Letnan Pierre Tendean maju ke depan seakan-akan dialah Jenderal Nasution dan pasukan yang datang itu tertipu karena mengira bahwa Pierre Tendean itulah Jenderal Nasution.
Dialah yang langsung ditembak dan dibawa oleh para pasukan.
Maka pada pagi hari itu tanggal 1 Oktober 1965 telah terjadi suatu tindakan terhadap para pimpinan Angkatan Darat. Likuidasi pimpinan Angkatan Darat dan seorang perwira pertama Pierre Tendean sedangkan Jenderal Nasution berhasil melarikan diri dan selamat.

Kemudian pada pagi hari itu juga tanggal 1 Oktober, Let.Kol Untung mengumumkan adanya Dewan Revolusi yang mengambil tindakan terhadap sekumpulan TNI yang akan melakukan perebutan kekuasaan terhadap Presiden Soekarno.
Maka Dewan Revolusi ini mengambil kekuasaan dan dengan demikian menunjukkan tindakan pemberontakan.

Pada tanggal 1 Oktober itu Panglima Angkatan Udara, Oemardhani, juga mengeluarkan statement melalui RRI menyatakan dukungannya kepada Dewan Revolusi yang mengambil tindakan terhadap pimpinan Angkatan Darat.
Akan tetapi Tuhan belum mengijinkan PKI menang sebab pada pagi hari itu May.Jend Suharto sebagai Panglima Kostrad telah mendapat informasi tentang tindakan yang dialami oleh pimpinan Angkatan Darat.

Pak Harto langsung pergi ke MABES Kostrad dan disanalah pada tanggal 1 Oktober itu Pangkostrad mengambil tindakan-tindakan yang mengakibatkan gagalnya PKI untuk mengambil kekuasaan.
Sebab Jenderal Nasution yang berhasil melarikan diri dari rumahnya dengan tepat menuju ke markas Kostrad.
Ketika Pak Harto meminta Pak Nas untuk memegang pimpinan perlawanan, Pak Nas menugaskan kepada Jenderal Suharto supaya dialah yang memegang pimpinan.

Sangat mungkin dapat dimengerti mengapa Pak Nas tidak ingin memegang pimpinan dikarenakan dengan situasi di rumah yang ditinggalkan Pak Nas pagi itu, selain Pierre Tendean ajudannya yang menjadi korban ada juga seorang putri bungsu Pak Nas, Ade Irma Suryani yang masih berusia 5 tahun turut tertembak waktu pasukan PKI ini menembak di rumah Jenderal Nasution.
Mungkin karena hal-hal itu Pak Nas kondisi mentalnya tertekan dan kemudian meminta Pak Harto untuk memegang pimpinan.
Dan pimpinan ini kemudian dilaksanakan secara efektif oleh Pak Harto.

Rupanya PKI juga sudah menyiapkan 2 batalyon TNI-AD yang ditugaskan untuk berada di Jakarta menghadapi, mempersiapkan diri untuk peringatan ulang tahun TNI pada tanggal 5 Oktober. Batalyon-batalyon yang dipersiapkan ini merupakan bagian dari Kostrad yang ternyata terdiri dari 2 batalyon.
1 batalyon dari Kodam Diponegoro yaitu Batalyon 454 dan 1 batalyon dari Kodam Brawijaya Batalyon 530.

2 batalyon ini juga sudah kena garapan dari Biro Khusus.
Itu berarti bahwa yang menggerakkan dan yang memerintahkan 2 batalyon ini untuk datang ke Jakarta guna ikut serta dalam upacara 5 Oktober adalah orang yang pasti tahu bahwa 2 batalyon ini sudah dalam kekuasaan pimpinan PKI.
2 batalyon itu tanggal 1 Oktober pagi hari berada di sekitar Lapangan Merdeka dimana terletak markas-markas yang utama dan gedung-gedung pemerintah yang penting.

Andai kata 2 batalyon ini dapat digerakkan dimanfaatkan dengan tepat maka PKI pada tanggal 1 Oktober sudah akan berhasil merebut kekuasaan di Indonesia.
Akan tetapi rupanya pengendalian pasukannya juga masih kurang tepat dan kurang efektif.
Karena 2 batalyon ini bersama dengan Batalyon 330 Siliwangi adalah merupakan unsur-unsur yang di bawah perintah Kostrad maka kemudian Panglima Kostrad Jenderal Suharto berhasil mendekati pimpinan Batalyon 454 dan 530.

Keberhasilan pendekatan Pangkostrad ini yang membuat 2 batalyon ini tidak lagi dapat dimanfaatkan oleh PKI.
Karena mereka kemudian sepenuhnya dapat dikendalikan oleh Pangkostrad. Dan memang ada kelemahan pimpinan PKI yang kurang memperhatikan logistik dari 2 batalyon ini.
Batalyon-batalyon yang didatangkan ini kurang mendapat dukungan makanan sehingga ini kemudian dapat disuplai dibekali oleh Kostrad yang makin mendekatkan penguasaan dari Pangkostrad atas 2 batalyon ini.

Dengan direbutnya penguasaan atas 2 batalyon ini, maka kemampuan kesempatan PKI untuk merebut kekuasaan semakin kecil.
Dan pada tanggal 1 Oktober itu juga Pangkostrad yang menetapkan diri sebagai pengganti pimpinan Angkatan Darat telah memerintahkan pasukan RPKAD dibawah pimpinan komandannya Kolonel Sarwo Edhi untuk merebut lapangan udara Halim Perdanakusuma.

Telah ada informasi bahwa pusat pengendalian PKI ini berada di Halim Perdanakusuma.
Dalam pada itu Presiden Soekarno yang tadinya berada di istana telah meninggalkan istana pada pagi hari. Mula-mula Presiden Soekarno dibawa oleh ajudannya Malwi Saelan menuju ke rumah istri Bung Karno, Dewi tapi kemudian dari sana rupanya dianggap kurang efektif kalau menghadapi keadaan karena helikopter Bung Karno ada di Halim.
Maka Bung Karno dibawa oleh ajudannya menuju ke Halim dan tinggal di rumah seorang perwira tinggi Angkatan Udara.

Di Halim kemudian Bung Karno mendapat laporan tentang apa yang telah terjadi terhadap para pimpinan Angkatan Darat yaitu Jendral Ahmad Yani, Jendral Suprapto, Jendral S. Parman, Jendral Panjaitan, Jendral MT Haryono dan Jendral Sutoyo.
Reaksi Bung Karno adalah: Dalam revolusi hal demikian adalah seperti “een rimpel in de oceaan” kata beliau dalam bahasa Belanda.
Jadi Bung Karno menganggap apa yang terjadi ini merupakan suatu hal yang biasa-biasa saja karena beliau mengatakan di dalam revolusi kejadian ini hanya bagaikan riak kecil di dalam samudera yang luas “een rimpel in de ocean” demikian reaksi beliau menanggapi pembunuhan terhadap orang yang tadinya disebutnya sebagai anak emasnya yaitu Jenderal Yani.

Bung Karno ketika berada di Halim menetapkan penggantian pimpinan Angkatan Darat dengan tiadanya Panglima Angkatan Darat Jenderal Yani yang sudah terbunuh.
Atas saran dari DN Aidit yang juga berada di Halim, Bung Karno menetapkan May.Jend Pranoto Asisten Personel TNI-AD sebagai pimpinan Angkatan Darat yang baru.
Dan hal ini kemudian disiarkan melalui radio RRI.
Kemudian ajudan Bung Karno Kolonel Wijanarko ditugaskan untuk pergi ke Kostrad untuk menyampaikan perintah Bung Karno agar May.Jend Pranoto datang ke Halim dan ditetapkan sebagai pimpinan Angkatan Darat menggantikan Jenderal Yani.

Waktu Kolonel Wijanarko tiba di Kostrad dan menyampaikan pesan Presiden Soekarno itu, maka timbul sikap penolakan tidak saja dari Pak Harto, tapi juga dari Pak Nasution dan perwira-perwira yang lain.
Karena adalah sudah menjadi kebiasaan selama pimpinan Angkatan Darat dipegang oleh Jenderal Yani sebagai Panglima Angkatan Darat, bahwa Pangkostrad May.Jend Suharto adalah merupakan orang kedua di dalam TNI-AD meskipun tidak ada ketentuan tertulis yang menyatakannya.
Tapi Jenderal Yani sudah menyatakan ini sebagai SOP (Standard Operation Procedure) yang berlaku di TNI-AD dan selama ini juga sudah berlaku bahwa jika Jendral Yani sedang tidak berada di tempat entah sedang tugas keluar negeri atau menjalankan tugas yang lainnya, maka yang memegang pimpinan TNI-AD sebagai person-in-charge adalah Jenderal Suharto.

Jadi atas dasar situasi yang sudah berlaku di dalam tubuh TNI-AD itu, segala sesuatunya yang ditetapkan oleh Bung Karno tidak mendapat respond yang memadai.
Lagipula masih ada kesangsian terhadap sikap May.Jend Pranoto dalam menghadapi masalah ini.
Oleh karena itu Jenderal Suharto kemudian menyampaikan kepada Kolonel Wijanarko untuk meneruskan pesan yang harus dilaporkan kepada Presiden Soekarno bahwa pimpinan TNI-AD telah diambil sesuai dengan SOP TNI-AD oleh Pangkostrad Jenderal Suharto, dan Jenderal Suharto tidak mengijinkan Jenderal Pranoto menghadap Presiden di Halim saat itu.

Selain itu Jenderal Suharto menyampaikan kepada Kolonel Wijanarko agar sebaiknya Presiden Soekarno segera pergi meninggalkan Halim.
Oleh karena sebentar lagi Halim akan direbut oleh pasukan khusus RPKAD guna membersihkan Halim dari unsur-unsur pimpinan G30S/PKI.
Dan jangan sampai Presiden Soekarno nanti terjebak di dalam kemungkinan pertempuran yg akan terjadi.

Ketika Kolonel Wijanarko kembali ke Halim dan melaporkan apa yang dikatakan Jenderal Suharto kepada Presiden Soekarno, maka Presiden Soekarno menunjukkan sikap kemarahannya karena perintahnya tidak dapat dilaksanakan.
Terlebih kemudian Presiden Soekarno menolak untuk meninggalkan Halim. Akan tetapi atas desakan Menteri Leimena dan yang lain, Presiden Soekarno kemudian menuruti desakan itu dan dengan didampingi oleh Dr Leimena, Presiden Soekarnopun lalu meninggalkan Halim dan kemudian pergi menuju ke istana Bogor.
Sebab itu ketika pasukan RPKAD mulai menyerang Halim dan kemudian menguasai lapangan udara Halim Perdanakusuma, Presiden Soekarno sudah tidak berada disana, akan tetapi DN Aiditpun sudah tidak ada.
Oleh karena sebelumnya pimpinan Angkatan Udara telah menyediakan satu pesawat yang kemudian membawa Aidit ke Jawa Tengah atau Jawa Timur dan pergi meninggalkan Jakarta atau Halim.

Kemudian juga Panglima Kostrad sebagai pimpinan Angkatan Darat yang baru segera menguasai Radio Republik Indonesia (RRI), mengeluarkan pengumuman-pengumuman tentang apa yang telah terjadi pagi ini dan bahwa kejadian ini semua merupakan pemberontakan PKI yang berusaha menguasai Indonesia melalui Dewan Revolusi dengan pimpinannya Let.Kol Untung.

Akan tetapi bahwa semua itu gagal dan usaha hari pertama itu sudah membuat pasukan-pasukan yang dibawah pimpinan Untung dan unsur-unsur ABRI yang turut di dalamnya sudah dapat dilumpuhkan dan dapat dilikuidasi sedangkan Untung sendiri sudah melarikan diri.
Inilah kejadian pemberontakan G30S/PKI pada tanggal 30 September – 1 Oktober 1965.

Jadi kalau di kemudian hari ada usaha-usaha yang mau membebaskan PKI dari pemberontakan 30 September – 1 Oktober dengan mengatakan bahwa yang terjadi adalah suatu persoalan internal TNI-AD itu adalah BOHONG BELAKA. Memang yang bergerak utamanya adalah pasukan-pasukan TNI-AD baik yang ada di Cakrabirawa maupun di luarnya akan tetapi itu adalah pasukan-pasukan yang kena digarap oleh Biro Khusus dan sudah masuk dalam kendali pimpinan PKI, DN Aidit.

Jadi Untung bukan melakukan tindakan terhadap pimpinan TNI-AD sebagai perwira TNI-AD yang memberontak terhadap pimpinannya melainkan dia disitu adalah sebagai seorang yang telah kena pengaruh PKI melalui Biro Khususnya untuk melakukan tindakan-tindakan yang diputuskan oleh pimpinan PKI, DN Aidit.

Juga adanya argumentasi bahwa yang bergerak bukan PKI akan tetapi DN Aidit pribadi, sedangkan pengurus PKI yang lain baik Ir. Sakirman, Nyoto, Nyono tidak tahu akan hal ini semua.
Ini mungkin benar, akan tetapi kalau ketua umumnya yang memegang pimpinan PKI dan mengeluarkan keputusan-keputusan, maka dengan sendirinya PKI sebagai organisasi jelas terbawa serta.

Oleh karena juga apa yang dikumandangkan oleh Dewan Revolusi yang mau menggerakkan unsur-unsur rakyat di daerah untuk turut bergerak melawan TNI-AD, ini semua menunjukkan tidak mungkin hanya suatu usaha pribadi DN Aidit, melainkan DN Aidit yang menggunakan organisasi PKI untuk berusaha menguasai Republik Indonesia. Maka gagallah untuk ke 3 kalinya pemberontakan PKI di Indonesia.
Yang pertama yang gagal adalah masa di jaman Hindia Belanda pada tahun 1927, yang kedua sudah menjadi Republik Indonesia pada tahun 1948 ketika PKI berontak di Madiun dan berusaha merebut kekuasaan dan yang ke 3 sekarang adalah pada tahun 1965.

Langkah-langkah berikut yang dilakukan adalah untuk mencari tahu kemana para korban pimpinan-pimpinan TNI-AD ini dibawa oleh penculiknya, karena tidak ada yang tahu kemana bergeraknya para pemberontak ini.
Baru pada tanggal 2 Oktober ada saksi yang melaporkan adanya kegiatan-kegiatan di daerah Lubang Buaya dekat Halim.
Ternyata para korban dibawa ke Lubang Buaya dan di sana jenazah-jenazah dikubur.
Mereka yang belum terbunuh di rumahnya pada subuh tanggal 1 Oktober, pada saat diketemukan di Lubang Buaya semua telah terbunuh.
Dengan cepat TNI-AD menggerakkan pasukannya ke Lubang Buaya dan benarlah diketemukan ada sumur dimana semua jenazah itu dimasukkan setelah dibunuh.

Dengan bantuan juga dari sekelompok pasukan KKO maka jenazah-jenazah ini pada tanggal 4 Oktober bisa berhasil diangkat dan dievakuasi dari dalam sumur dan kemudian dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto untuk diautopsi.

Dan pada tanggal 5 Oktober yang bertepatan dengan hari ulang tahun Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, jenazah-jenazah para perwira-perwira TNI-AD ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Adalah juga mencolok mata dan menonjol bahwa pada pemakaman Jenderal Yani yang katanya merupakan “anak emas” Presiden Soekarno, Presiden tidak hadir di Kalibata.

Adalah suatu kebohongan kalau kemudian dikatakan bahwa Presiden Soekarno meninggalkan istana Bogor dan menuju ke Kalibata untuk menghadiri upacara pemakaman para perwira-perwira TNI-AD yang gugur.

Wallahu'alam

bersambung ke bagian III

Tidak ada komentar:

Posting Komentar