Senin, 15 Agustus 2011

Perjalanan


Sahabat, kalau saja di bumi ini tidak ada gunung, tidak ada bukit, tidak ada lautan, tidak ada rawa, tidak ada jurang, tidak ada bangunan, dan kalau kita berjalan lurus, maka –karena bumi ini bulat- kita akan kembali ke tempat dimana kita pertama kali melangkah.

Begitupun hidup kita. Kalau saja hidup kita datar-datar saja, kalau manusia diciptakan tanpa hawa nafsu, tanpa punya keinginan, tidak ada ambisi, tanpa rasa takut, tanpa rasa cemas dan tidak ada syetan yang menggoda, maka kita akan kembali ke tempat pertama kali kakek moyang manusia –Nabi Adam as- berada.
Dimana?  Surga!

Tapi Allah yang menciptakan manusia tidak berkehendak demikian. Dia menciptakan manusia dengan misi khusus, yaitu menjadi khalifah fil ardhi, sebagai bukti pengabdian kepadaNya.

Allah SWT berfirman:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…..” (QS. Al-Baqarah:30)

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat:56)

Ya, Allah menciptakan manusia untuk mewakiliNya dalam mengelola, memelihara bumi ini. Dan misi ini menjadikan manusia, lebih istimewa di banding makhluk-makhluk lain yang pernah diciptakanNya, sehingga Dia pun menyuruh malaikat dan jin utk bersujud di hadapan Nabi Adam as.

Allah memerintahkan
"Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah:34)

Kejadian ini pula yang mengawali deklarasi iblis untuk menggoda manusia.

“Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). Allah berfirman: "Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya." (QS. Al-Araf:16-18)

Itulah hidup kita, sahabat. Kita diciptakan oleh Allah SWT. Dengan disertai ‘accessories’ hidup, seperti rasa takut, ambisi, bahagia, harap, kecemasan, bimbang, plus ada syetan –anak turunan iblis- yang diijinkan untuk menggoda kita, yang dengan itu semua kita bisa terlupa atau lalai akan misi kita diciptakan. Sehingga, tentu saja kita tidak akan bisa dengan mudah ‘berjalan lurus dengan mulus’.

Allah pun kemudian membekali kita dengan petunjuk, rambu-rambu, peta perjalanan, supaya kita dapat melaksakan misi yang diemban dengan benar sesuai keinginan pemberi misi –Allah SWT- yang kemudian Dia akan memberi imbalannya berupa surga.

Nah… begitu sahabat. Perjalanan hidup kita bagaikan berjalan di atas bumi ini. Kadang kita harus berbelok karena ada gunung, kadang kita harus naik dan turun karena ada bukit, tetapi tujuan kita sudah pasti, kita harus mencapai tujuan ditentukanNya. Oleh karenanya, tidak ada jalan lain, supaya selamat kita harus berpegang teguh kepada petunjuk yang disediakanNya, al-Quran dan Sunnah Rasul-Nya.
Rasul pun sudah memprediksi bahwa kita akan ‘turun-naik’ ketika menjalankan misi ini. Beliau bersabda, “Al imanu yazid wa yankus”. Karena kadangkala ambisi kita mendominasi, rasa takut lebih kuat, atau rasa cemas bertabrakan atau menghalangi ‘perjalanan’ kita. Tapi tentunya selama kita istiqomah dengan petunjuk hidup kita, kita akan sampai di tujuan dan menggapai surga yang telah disediakan oleh-Nya.

Keep live istiqomah sahabat. Hidup adalah sebuah perjalanan.

Tasikmalaya, Senin 15 Agustus 2011, 05.30 wib
Urip Widodo, ST.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar