Kamis, 12 September 2019

Berawal dari Akhir 1

Bagaimana Anda ingin dinilai baik (mulia) oleh orang lain, orang-orang sekitar Anda?
Apakah dengan memiliki kekayaan yang banyak? Atau dengan memiliki gelar yang mentereng? Atau dengan punya jabatan yang tinggi?



Bayangkan bahwa Anda sudah meninggal dunia, dan sebentar lagi akan dikebumikan. Bagaimana reaksi orang-orang sekitar Anda?
Apakah mereka terlihat sedih, berduka dengan sangat?
Apakah mereka merasa kehilangan, sehingga berduyun-duyun mengantarkan jenazah Anda?
Atau mereka terlihat biasa-biasa saja?
Atau malah mereka terlihat senang?

Seorang penulis yang juga motivator, pernah menulis dalam bukunya, kesan yang timbul ketika anda meninggal adalah hasil dari akumulasi apa yang anda kerjakan selama hidup.

Meninggalnya bapak Habibie membuktikan hal itu. Kita lihat bagaimana respon rakyat Indonesia ketika mengetahui beliau meninggal dunia. Semua media cetak menjadikannya headline. Semua stasiun TV menayangkan berbagai acara dengan topik meninggalnya pa Habibie, baik talk show, liputan, maupun memutar rekaman-rekaman pa Habibie semasa hidup. Semua rakyat Indonesia bersedih. Bangsa Indonesia bersedih, bahkan resmi selama 3 hari dinyatakan sebagai hari berkabung nasional, dengan instruksi mengibarkan bendera setengah tiang.

Menurut saya, itu terjadi bukan karena beliau sebagai presiden ketiga sehingga rakyat Indonesia merasa sedih dan kehilangan. Tapi, karena akhlak (perilaku) beliau. Akhlak beliau sebagai politisi, akhlak beliau sebagai ilmuwan, akhlak beliau sebagai suami, akhlak beliau sebagai seorang muslim, dan akhlak beliau dalam posisi yang lainnya.

Sebagai seorang ilmuwan, semua tahu, duniapun mengakuinya. Bahkan dikalangan ilmuwan dunia, beliau punya gelar Mr. Crack, karena penemuan beliau tentang keretakan material. Kalau beliau mau, dengan kepakarannya itu, beliau bisa hidup nyaman di Jerman. Tapi nasionalisme nya, kepedulian pada negaranya, beliau tinggalkan itu dan kembali pulang.

Sebagai seorang politisi, siapa yang lupa, ketegaran beliau saat menyampaikan laporan pertanggungjawaban di Sidang Istimewa MPR yang saat itu dipimpin Amin Rais. Beliau tetap tegar dengan tetap bersenyum lepas, walau hampir seluruh anggota senat menghinanya, meneriakinya, menghujat nya. Bahkan sejak selangkah kakinya memasuki ruang sidang, teriakan huuuuuuuu.... menyambutnya. Saya pun yang menyaksikan liputannya di TV merasa sedih melihat beliau diperlakukan seperti itu.

Sebagai seorang suami, cukup sepertinya bagaimana keromantisan dan keharmonisan beliau bersama ibu Ainun digambarkan dalam film Ainun Habibie.

Saya rasa itu semua yang menyebabkan saya dan jutaan rakyat Indonesia merasa bersedih atas meninggalnya beliau. Apa yang telah diperbuat selama hidupnya sangat berkesan. Banyak peninggalan beliau yang menunjukkan kualitas hidup beliau. Lahirnya ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), harian Republika, BMI (Bank Muamalat Indonesia), itu sebagian yang tidak terlepas dari keterlibatan beliau. Bahkan lahirnya partai-partai politik diawal reformasi yang bak jamur dimusim hujan itu atas kebijakan beliau yang membuka keran demokrasi yang tertutup selama orde baru. 

Respon rakyat Indonesia terhadap kematian bapak Habibie adalah hasil dari apa yang selama hidup pak Habibie lakukan.

Kembali ke topik. 
Jadi, bagaimana kita harus bersikap dalam hidup ini? 
Mulailah dari kesan apa yang kita harapan setelah kita meninggal kelak. Berawallah dari kematian kita, untuk kemudian kita memperbaiki perilaku hidup kita.

Berawal dari akhir (hidup kita) untuk memulai menata hidup. 

Allah swt berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (Al-Hasyr:18)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar