Lukisan Anak

 



“Kau ini aneh! Sudah berapa kali kau lukis anak kecil, tapi gak pernah selesai, wajahnya kau buat kosong.” Ucok, suatu hari, dengan logat Bataknya mengomentari lukisan yang dibuat Mamat. Lukisan yang kesembilan.


Mamat hanya mengangkat kedua bahu.


Wajar kalau Ucok merasa heran. Mamat sendiri tidak mengerti. Sejak tiga hari yang lalu, setiap ia akan melukis, isi kepala dan tangannya seolah berkompromi, bersepakat, memaksanya untuk melukis tubuh seorang anak kecil laki-laki. Anehnya, saat akan menyelesaikan bagian wajahnya, isi kepala dan tangan Mamat lagi-lagi berkompromi, memaksanya berhenti, tanpa menyelesaikan lukisannya.


Tapi tidak malam ini. Kali ini tangan dan kepala Mamat justru memaksanya menyelesaikan lukisan, tanpa bisa dikendalikannya. Usai wajah anak kecil laki-laki terlukis sempurna, mata Mamat terbelalak, mulutnya menganga. Tak sanggup memandang lukisan itu, Mamat langsung beranjak meninggalkannya.


Setelah hanya mencuci tangan, Mamat membaringkan tubuh yang berkeringat dingin. Dipaksanya mata dipejamkan. Alih-alih tertidur, bayangan wajah anak kecil laki-laki itu terus muncul. Walaupun akhirnya terlelap juga.


Tapi tidak lama. Beberapa saat kemudian, Mamat merasakan lehernya dingin, sangat terasa ada kedua tangan mencekiknya. Saat membuka mata, tambah terkejut ia. Anak dalam lukisan itu tengah mencekiknya. 


Dalam sekejap, kilasan kejadian sepekan lalu melintas. Anak laki-laki itu anak tetangganya yang tak sengaja kena peluru senapan mimis saat ia berburu tupai. Anak itu, yang sedang mengambil layangan putus, tak terlihat karena terhalang pohon. Sebutir peluru yang keluar dari senapan mimis bersarang di kepala anak itu.


Tubuh anak itu jatuh, nyawanya pun melayang. Beberapa jenak setelah kepanikan melandanya, Mamat segera menggali lubang untuk menguburkan jasad anak laki-laki itu.


Dan keesokan harinya Mamat menunjukkan sikap sedih dan empati pada tetangganya – orangtua anak itu yang mengira anaknya hilang – dan ia pun pura-pura ikut sibuk mencari.


"Aku menunggumu... menunggu saat yang tepat." Anak itu berkata lirih tanpa mengendurkan cekikannya. Mamat merasakan tangan anak itu makin dingin. Sangat dingin.


"Aku cuma ingin paman mengingatku... bukan menutupinya dengan kebohongan." Lanjutnya serasa menatap makin tajam.


Lalu tubuh anak itu memudar, kembali ke kanvas.


Kini, lukisan itu lengkap. Utuh.  

Mata anak itu menatap siapa pun yang melihatnya. Menyimpan rahasia.


Dan Mamat?  

Esok paginya ditemukan tak bernyawa di kasurnya, dengan mata terbelalak.


Di ruang itu, hanya ada satu saksi:  

Lukisan anak laki-laki.

Komentar