Rabu, 15 Juni 2011

#indonesiajujur: Harga Sebuah Kejujuran

Miris saya membaca berita beberapa hari yang lalu, sebuah keluarga diusir warga sekampungnya, gara-gara melaporkan adanya sontekan massal, di sekolah anaknya, saat ujian nasional.


Sedih rasanya kalo sekiranya perilaku warga sekampung itu, mencerminkan perilaku atau sikap masyarakat negeri ini terhadap sebuah kejujuran. (Mudah-mudahan sih tidak, ya?!). Kalau benar?


"Ini krisis edukasi dan pendidikan. Kasus di Surabaya itu adalah puncak gunung es. Banyak masalah yang lebih ngeri dari itu," kata agamawan Romo Mudji Sutrisno di mediaindonesia.com, senin 13 juni 2011.



Mengerikan, kalau kasus itu baru puncak gunung es. Bisa dibayangkan kasus-kasus yang ga terungkapnya. Salah satunya, kasus klasik - maksudnya terjadi setiap tahun - ketika penerimaan siswa baru. Sudah bukan rahasia lagi kalau orang tua yang akan mendaftarkan anaknya sekolah, disodori form 'kesediaan memberikan sumbangan", entah itu sumbangan bangunan, pagar, laboratorium, atau yang lainnya. Dimana dalam form itu, orang tua siswa harus mengisi titik-titik besarnya 'sumbangan'. Dan... bisa ditebak, terjadilah 'lelang', siapa yang mengisi titik-titik tersebut dengan angka yang tertinggi, prioritas si anak pun untuk diterima di sekolah itu paling tinggi juga.


Ini real di kota saya tinggal, sebuah SMK negri, tahun ini menerima siswa baru 1.000 orang, setiap orang tua siswa disodori form 'sumbangan' dengan nilai minimal 3 juta rupiah. Coba bayangin.... akan terkumpul uang sebanyak 1.000 x 3 juta rupiah alias 3 MILYAR. PANTASTIS !


Buat apa uang sebanyak 3 MILYAR tersebut?  wallahu 'alam. Karena, cerita teman saya yang anggota dewan, saat kunjungan ke sekolah dan menanyakan penggunaan uang itu, jawabannya kaditu-kadieu alias ga jelas.


Termenung saya membayangkan mutu produk pendidikan negeri kita ini. Awal masuk sudah dengan cara 'lelang', bukan prestasi yang dilihat (ada lho.. beritanya siswa juara olimpiade ga diterima), walaupun tidak semua. Proses pendidikannya? sudah tau lah..... Akhirnya? Ya itu tadi, kasus yang dibicarakan di awal. UAN dijamin lulus. Kalau ga dikasih lembar jawaban saat ujian, lembar jawabannya nanti diperbaiki.


Jadi UAN itu bukan lagi sarana untuk menguji prestasi siswa. Tapi dijadikan sarana menunjukkan 'prestasi' oleh sekolah, yen tingkat kelulusannya 100%. Ga peduli kualitas siswa lulusan sekolah itu, yang penting di sekolah itu siswanya lulus semua.


Biar apa?   konon.... katanya sih, biar gampang dapat bantuan.


Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Hanya itu yang bisa saya ucapkan, melihat bobroknya dunia pendidikan kita. Karena saya mengganggap ini musibah, dan saya mengembalikan permasalahan ini kepada Allah SWT dengan do'a tersebut. Bukan mengkambinghitamkan Allah Yang Maha Kuasa, tetapi berharap Dia memberi 'perhitungan' yang pantas kepada pihak-pihak yang merusak generasi bangsa ini. 



1 komentar: